Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2008

S o r e I t u

Di ufuk barat matahari telah memerah, mengguratkan suatu keindahan di sudut-sudut langit yang terlihat seakan menyatu dengan bumi. Menebarkan suatu kehangatan di hamparan pasir yang diselingi beberapa pohon dan rumah penduduk. Sementara angin gurun berhembus lembut, suaranya membisikkan pada alam suatu keheningan, mengantarkan senja sore ini bersama awan kelabu yang merayap beriringan.
Di pojok luar kamarku aku duduk sendiri. sambil bertopang dagu kubiarkan mataku menyusuri keagungan pesona seni ini; seni yang tak akan bisa ditiru oleh mahluk sepertiku. Aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan. Pikiranku terlanjur menerawang jauh, mengikuti kemana angin berlalu.
Senja sore ini memang sangat indah, hingga pikirku tak mungkin kumelewatkannya. Bagiku, ia seakan seorang dewi yang turun menemani kesendirianku, membelaiku, dan menawan hatiku. Dan masih kuperhatikan gerak alamNya, hingga diriku semakin lebur didalamnya. Tak habis pikir dan tanya, buat apa Tuhan menciptakan ini semua.
"Andai kau disini." tiba-tiba terbersit namanya dalam hati. Burung-burung yang terbang pulang ke tempat mereka belajar mulai mengepakkan sayap-sayapnya, menyeretku kembali pada suatu yang mencoba untuk kusingkirkan. Membuka memori lamaku, tentang seseorang:
"Ida, apa kau masih ingat aku?" sungguh, hatiku luruh setiap kali teringat namanya. Mataku meradang merah, menahan perasaan yang meluap di pelupuknya. Tapi, semuanya telah terjadi dan berlalu, memaksaku harus pergi jauh, hingga dia yang disana tak bisa untuk kusentuh.
Teringat saat aku tanpa sengaja bertemu di pinggir sebuah pantai karang berbatu. Kutanya nama dan siapa dirinya. Sampai akhirnya datang embun pagi yang membuka pintu hati. Sebuah bisikan yang ingin menjadikannya bunga yang selalu mekar, semerbak wanginya di tengah gurun yang telah tersiram oleh air cinta. Hinga suatu hari, timbul rasa ingin mengungkapkan getaran-getaran yang sering menyesakkan dada. Getaran-getaran yang menghampiriku sejak beberapa bulan yang lalu. Ya, setelah perkenalan itu. Sungguh tak bisa untuk ku mengelak , apalagi membunuh lalu menguburnya. Getaran-getaran itu datang begitu saja, membayangi hari-hariku dan merasuk dalam relung jiwa lalu bersatu dengan diriku.
Memang benar apa yang dikatakan orang bahwa cinta itu indah, yang bisa membuat orang gila karna keindahannya. Memberikan surga dengan para bidadari dan dayangnya. Melambungkan khayalan tertinggi menembus batas-batas dunia seperti seorang pecandu yang kehilangan akalnya.
Dan memang kini aku seperti orang gila. Bahkan mungkin benar-benar gila. Entah kemana akalku?!

"He, lo nglamun aja!!" kuingat saat itu tiba-tiba temenku menegur dari belakang, membuatku kaget. Tapi kujawab enteng seolah memang tidak ada yang kupikirkan.
"Nggak ada apa-apa. Lagi suntuk aja nih."
"mikirin dia ya, udah bilang aja lah…" lanjutnya sambil berlalu di hadapanku.

***
Tak terasa waktu terus berputar. Detik berganti menit, jam dan hari pun bersaing menyusul. Satu minggu telah lewat begitu saja. Aku tak ingat apa-apa. Aku yang saat itu sedang berada di kampung hanya mondar-mandir tanpa tau apa yang harus dikerjakan. Aku pusing, Mungkin karena sudah cukup lama mengenal enaknya sesuatu yang bernama JAKARTA, lalu kini harus diam di rumah. Tak ada kerja, teman juga entah kemana. Ditambah lagi dengan udara musim panas yang semakin menggila. Memang sih, beberapa hari terahir ini, langit berhias mendung, awan hitam menggulung-gulung. Tapi tak terlihat tanda akan turunnya hujan yang diharapkan. Seakan alam sedang bermain-main dengan manusia.
Kusaksikan para petani yang telah lelah menunggu tetesan kehidupan mereka dari langit, terdengar hanya menggerutu dan pasrah pada nasib. Tapi selalu saja mereka katakan penuh pengharapan "semoga saja hujan turun", hingga entah karena apa, tiba-tiba Tuhan pun menyuruh sang Malaikat untuk menurunkan butir-butir bening kesejukan dari langit, meski sangkaku itu hanya cukup untuk membersihkan udara yang telah penuh dengan debu kemarau.
Tapi yang kusangka ternyata salah. Mungkin langit sedang bersuka hati, menyaksikan kami memanjatkan beribu terima kasih, pada Tuhannya yang juga Tuhan kami. Maka gerimis pun terasa masih enggan untuk berhenti, bahkan setelah kelompok-kelompok hewan malam mulai berhamburan mencari makan, menggantikan saudara-saudaranya yang harus pulang. Sementara aku selesai sholat maghrib, temanku di Jakarta memberi kabar bahwa keberangkatan ke libya sepuluh hari lagi.
"Waduh, mati aku. Belum siap-siap lagi!!" gumamku kaget. Ya tiga bulan lalu aku memang mendaftar dan alhamdulillah bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan studiku di negeri hijau ini. Tapi meski begitu, toh tak urung kabar yang mendadak ini membuatku deg-degan juga.
Sebenarnya sebelum maghrib tadi aku akan menelpon dia. Aku ingin dia tau isi hatiku. Tak peduli apakah dia memang satu hati atau malah nantinya akan bertepuk sebelah tangan cintaku ini. Semuanya telah kurancang, mulai kalimat apa yang harus kuungkapkan, intonasi suara, sampai kemungkinan jawaban yang akan dia berikan. Tapi Ahh... semua itu kini berantakan. Rancangan tinggal rancangan, yang mengendap dalam lapisan otak dan perasaan, seperti nasib tanah yang kini sedang terbawa aliran air hujan. Oh, Tuhan....
Kembali ku teringat dia, kuarahkan mataku pada selembar foto yang ada diatas meja kecil dari kayu jati yang ada dalam kamarku. Wajahnya meski tidak secantik para bintang di televisi, namun ia bagai bulan purnama yang bersinar melewati dinding-dinding kegelapan malam. Ia terlihat begitu ayu dengan jilbabnya. Matanya yang bening mampu menundukkan tatapan-tatapan mata liar yang ingin menerkamnya. Senyumnya yang lembut nan anggun berkuasa mendamaikan jiwa-jiwa yang mudah terpesona oleh nafsu yang meraja.
Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba membuang sesak yang mulai bergemuruh dalam jiwa. Lalu kuhembuskan pelan-pelan. Kurasakan hawa yang mengalir dari paruku melewati tenggorokan dan rongga mulut, menyeret keluar sebagian beban yang menyumbat katub nafasku.
Jendela kamar yang kubiarkan terbuka, membawa belaian-belaian angin sejuk. Udara dalam kamar yang biasanya selalu bikin gerah itu kini digantikan dinginnya gerimis yang sejak sore tak kunjung reda. Suaranya berpadu dengan gemericik air yang jatuh dari atas genting. Mengesankan aku yang sedari tadi dengan pikiran kosong berdiri dekat jendela.
"Mengapa tak kau telpon saja dia?!" Pikirku.
"Dan ungkapkan perasaanmu."
"Ah, itu tidak mungkin." lagi-lagi aku bingung sendiri. Merasa ragu untuk mengatakannya atau tidak. Setelah menerima kabar tadi, aku semakin bimbang. Bagaimana mungkin aku akan mengatakannya, sedang tak lama lagi aku akan meninggalannya. Bayangan jarak yang jauh dan waktu yang lama seakan menjelma menjadi tembok yang menghalangi mulutku untuk berteriak, membuka suara. Kalaupun nanti dia menyambut uluran hatiku, aku pun tak kuasa untuk membuatnya menderita, hanya sekedar menunggu.
"Tapi apa kau pernah berpikir, bagaimana kalau seandainya ia juga suka kamu?! dan selama ini ia telah tersiksa dengan kebisuanmu?!" tanyaku pada diri sendiri.
Aku terdiam. Aku merasa sebagai seorang pengecut, yang telah kalah sebelum berlaga. Aku hanya mampu meratapi ketidakberdayaanku ini, tanpa mampu tuk kepalkan tangan. mungkinkah Aku egois, yang tidak mau tau perasaannya? atau Aku terlalu phobia, Takut dengan kenyataan?
Dan malampun semakin merangkak naik. Tapi gerimis masih saja menemani kebisuanku….

****

"Assalamualaikum.…" suaraku terdengar agak pelan.
"waalaikum salam…. "
"Eh, kakak, kapan datang di Jakarta?" tanyanya kaget sambil diiringi senyum manis. Dia memanggilku kakak karena aku lebih tua dua tahunan dibanding dia. Saat itu ku lihat sinar kegembiraan terpancar dari wajahnya yang agak kecapean.
" Udah dari Kemarin lusa di sini" jawabku singkat.
"Ngomong-ngomong, lagi ngapain kamu Da?"
"Habis Bantu ibu bikin kue" bilangnya.
"wah, kebetulan sekali ya!!"
Sambil mempersilahkanku duduk ia lalu menuju kedalam.
Rumah yang sangat nyaman itu, sepertinya tidak sebanding dengan ukurannya yang menurutku sedehana dan biasa saja. Lantainya yang hanya tertutupi semen selalu bersih dan ramah menyambut setiap kaki yang menginjaknnya. Cahaya yang cukup dan udara yang selalu terganti melalu jendela menghilangkan kepenatanku walau sejenak. Rumahku surgaku. Kata-kata yang tepat untuk istana ini.
Sesaat kemudian Ida membawa keluar segelas air putih, disusul ibunya dari belakang meski saat itu hanya sekedar menyapa.
Menurutku Ibu Ida sangatlah ramah meskipun baru dua kali ini aku berkunjung kerumahnnya. Yang pertama saat aku akan pulang kampung dulu dan yang kedua sekarang ini. Sebenarnya tujuanku datang kerumahnya, disamping silaturrahim, juga ingin bicara dengan seseorang yang telah beberapa bulan menggelisahkan jiwa. Membuat hari-hariku indah dengan kebingungan yang kupendam. Aku ingin dia tau bahwa namanya kini telah terpatri dalam hati. Aku mau dia tau semuanya, meski mungkin nanti harus menelan pahitnya empedu atau petir akan menyambarku. Setelah ngobrol beberapa saat hatikupun mulai bergejolak.
"Ayo, bicaralah…!!" bisikan hatiku merongrongku, membuatku gemetar ragu.
"Eee... Ida, sebenarnya aku kesini mau pamit sama kamu. Mungkin, besok lusa aku akan berangkat ke Libya." suaraku terputus-putus. Dadaku bergetar hebat. Aliran darahku mengalir cepat.
"Ah,… bodohnya aku. Bukan itu yang ingin kukatakan." Kukatai diriku sendiri dalam hati. Seribu makian serasa tak cukup mengganti ketololanku ini.
Terlihat wajahnya sedikit berubah, entahlah aku tak tau pasti sebabnya. tapi aku kira aku salah ngomong, mungkin aku telah menyisipkan suatu kekecewaan dihatinya.
"Ah... aku benar-benar menyesal. Sungguh bodoh aku."
Hening.
"Kak, apa bener mau pergi?!" pertanyaannya terasa berat. sementara itu aku terdiam, sulit rasanya untuk menjawabnya.
"ya, insyaAllah. Do'ain saja biar semuanya baik-baik saja".
"ya, semoga..."
Kami terdiam. Tiba-tiba matanya terlihat agak melebam pucat lalu setitik embun hangat menetes melewati pipinya.
Kini aku seakan tahu dengan yakin bahwa perasaannya sama denganku. Dia ternyata telah menugguku. Menuggu seseorang yang kini menggores perasaannya.
"Ida, maafin aku ya...." sambil kuulurkan selembar tissue berharap ia mengerti semuanya. Sesaat kemudian ia lalu kutinggalkan sendirian, tak ada hadiah untuk kenangan, tak ada harapan yang kujanjikan. Semuanya kupendam, tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya doa dan sebuah buku catatan kugenggamkan ditangannya yang memberanikanku ucapkan perpisahan.
"Ida, maafin aku...." lirih hati mengiringi langkahku.
Hari sabtu malam, aku berangkat bersama temen-temen yang lain, membawa selembar harapan dan segenggam impian baru, meski aku masih terbayangi oleh coretan-coretan kemarin yang buram. Mungkinkah dengan perpisahan ini aku bisa melupakannya....?!

****
Kini aku telah berada di negeri yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tak terkira perasaanku hingga kutulis nyelneh "rasanya nano-nano." Tapi apakah aku telah benar-benar siap menjalani hidupku disini, hidup yang tak hanya sekedar makan tidur dan berleha-leha dengan impian yang muluk-muluk. Hidup yang mengharuskanku mengucurkan keringat bahkan darah. "perubahan" bukankah ini tujuanku kesini?!
Dan hari-hari itu pun telah berlalu bahkan telah genap setahun. Sementara itu, sampai saat ini ternyata aku belum bisa melupakannya. Dan tanpa sadar, ternyata waktu berputar cepat meninggalkanku dibelakang. Sering aku hanya terdiam memandang keluar kamar saat senja mulai menghantarkan matahari sembunyi diujung barat sana. Dan saat itulah, tiap sore kusaksikan sang waktu terbang melambaikan tangannya seraya mengucapkan selamat tinggal padaku.Saat sadar, ku panggil ia untuk kembali. Tapi lidahku telah kaku, pita suaraku terbakar oleh ribuan teriakan tak tentu. Habis sudah semuanya. Yang tersisa hanyalah kekuatan sekedar tuk bersandar menyaksikan rona merah langit yang indah. Menemaniku merajut kenangan dan harapan yang hanya ada dalam khayalku. Dan ketika sampai hari ini, masih saja sore itu melambaikan tangannya, tapi seakan bukan hendak meninggalkanku, namun mengajakku bangun dan berkata "kejarlah aku....”
dan kurasa sore itu begitu indah. (Juni 2007).

Kamis, 15 Mei 2008

kenangan sholawat

Matahari mulai meredupkan sinarnya. Mega menyelimuti langit senja. Seorang anak lelaki berjalan ke luar dari rumahnya. Kain sarung dan sebuah peci yang dikenakannya menandakan bahwa dia akan menuju masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Sejak dia dikhitan, lingkungan sosialnya bertambah, yaitu masjid. Sebelumnya, dia tidak pernah sekali pun masuk ke dalam masjid, apalagi ikut sholat sebagaimana teman-temannya yang sudah lebih dulu dikhitan.
Sesampainya di masjid, beberapa temannya sudah berada di sana. Ia pun segera duduk bersama teman-temanya membentuk setengah lingkaran di dekat mihrab. Tak lama kemudian seorang pemuda memimpin mereka mengumandangkan sholawat. Gema sholawat dengan lafazh dan irama yang beraneka ragam segera mengisi langit senja melalui pengeras suara masjid. Lelaki kecil dan teman-temannya seolah-olah berusaha untuk mengingatkan kepada para tetangga masjid bahwa waktu sholat maghrib sudah dekat dan mengajak tuk ikut meramaikan masjid dengan sholat berjamaah.
Alunan sholawat yang senantiasa hadir di masjid itu di setiap sore, meninggalkan jejak yang tetap berbekas di sebuah ruangan memori si lelaki kecil. Hingga suatu masa ....
*****
Acara pengajian rutin malam itu sudah dibuka. Namun sang guru yang akan mengisi materi belum juga hadir. Pembawa acara agak sedikit bingung dengan apa dia mengisi waktu kosong tersebut. Dia pun meneliti buku tipis yang dipegangnya sejak awal acara pengajian. Di bagian sampul buku tersebut terdapat dia menemukan sebuah syair sholawat. Sholawat yang dulu sering dia lantunkan bersama teman-teman di sebuah masjid di seberang sana. Dia pun mencoba mengingat bagaimana irama sholawat tersebut dilantunkan dulu.
Tak lama kemudian, dia pun memberanikan diri berbicara kepada pimpinan pengajian dan mengusulkan untuk mengisi waktu kosong dengan membaca sholawat. Pimpinan pengajian pun setuju. Maka mulailah dia melantunkan sholawat tersebut yang kemudian diikuti oleh semua jamaah pengajian.
Tak lama kemudian, sang guru yang dinanti pun hadir dan beberapa waktu berselang beliau segera menyampaikan materi pengajian malam itu.
*****
Setibanya di rumah, si pembawa acara tersebut ditanya oleh ibunya dari mana dia mendapatkan lafazh sholawat tersebut dan cara melagukannya. Dijawab saja langsung, "Lafazhnya ada di buku, sedangkan iramanya sering dilantunkan dulu ketika di masjid."

Rabu, 16 April 2008

Anak anak lampu merah

Matahari telah menyisakan warna merah diujung sana. Lampu-lampu di jalanan ibu kota telah menggantikan terangnya sang penguasa siang. Gemerlap Jakarta mulai dimainkan. Mungkin beberapa menit lagi azan akan bergema, aku yang baru pulang kuliah harus berdiri didalam bis yang penuh sesak. Jalananpun macet ditambah lampu merah yang sudah tak mampu mengendalikan semrawutnya para pengguna jalan. Akhirnya bis putih jurusan kampug rambutan-tanah abang itu harus terhenti dibelakang beberapa kendaraan lain.
Aku yang duduk di pinggir dekat jendela mencoba menghindari pengapnnya suasana dalam bis. Kumainkan telunjukku dikaca yang telah kusam tertutup debu. Kulayangkan sepasang mataku menyusuri jalanan yang bising oleh suara klakson dan deru mesin kendaraan.
Hari ini benar-benar kacau, pikirku. Sudah masuk kuliah terlambat, presentasi yang gagal, perut yang keroncongan duit tinggal goceng lagi. Benar-benar susah hidup ini… huuhhh
Kucoba melupakan semua masalah yang ada, kulihat dari pinggir jalan sana, beberapa anak kecil
turun kejalan diantara celah-celah mobil yang antri bersiap untuk ngebut kedepan. Perkiraanku umur mereka yang paling besar sekitar 11 tahun, sedang yang paling kecil mungkin 6 tahunan. Anak-anak yang malang, gumamku.
Dengan muka yang kusut dan baju yang entah berapa hari atau minggu tak dicuci, dua orang masuk kedalam bis yang ada didepanku. Sedang yang lainnya lagi mendekati sedan-sedan dan angkot yang berjejer rapat. Kusaksikan pemandangan tak masuk akal ini hampir tiap hari. Berpasang-pasang tangan kecil tak berdaya ditengadahkan dari luar kaca mobil. di bawah temaram lampu jalanan itu, Jemarinya yang kehitaman berselimut debu sangatlah tidak wajar untuk dipertontonkan. Denagn mata yang cekung layu dan wajah yang memelas penuh harapan, mereka mencoba mengetuk hati para manusia, mengabarkan kesusahan dan penderitaan yang selalu mempermainkan hidup mereka. Apakah diantara para manusia itu ada yang masih punya nurani sehingga sudi memberikan sedikit rizkinya untuk sekedar mengisi perut yang membusung akibat kurangnya gizi, atau sekedar berbagi rasa atas apa yang telah dikaruniakan kepada mereka oleh sang Ilahi. Aku tak tahan melihatnya, namun tak sangggup pula tuk memalingkan muka masa bodoh dengan derita mereka. Mataku berair, hatiku memekik keras, tapi gaungnya hanya tertahan sampai di tenggorokan. Tuhan apa salah mereka…??
hatiku berkecamuk. prihatin, marah, geram dan perasan tidak berdaya beraduk tak karuan. keadaanku yang mungkin tak jauh beda dengan anak-anak tadi juga membuatku ingin meronta sejadinya. "mengapa kami harus begini?!". tanyaku pada diri sendiri.
Dulu, saat pertanyaan ini mengusikku tuk pertama kali, "sebuah ketidak adilan" adalah kesimpulan pertamaku yang membuatku gelisah dan akhirnya menggoncangkan batinku sejak beberapa tahun yang lalu. bahkan, sampai saat ini masih membekas dalam diriku. Ketidak adilanlah yang membuatku kecewa, menangis, menderita, dan putus asa dengan hidup ini. bahkan sampai membuatku muak dengan keyakinanku yang ada selama ini. Aku bimbang apakah benar Tuhan yang maha bijaksana itu benar adanya?!
memang aku bisa dibilang sebagai seorang anak jalanan yang hidupnya harus sering terlunta-lunta, bahkan untuk membayangkan kenikmatan dunia ini saja, aku harus mendongakkan kepala setinggi-tinggginya hingga seakan aku memang tidak akan sangggup menggapainya. meskipun sekarang keadaanku mungkin lebih baik, dengan lapak dagangan yang lumayan sehingga bisa diandalkan untuk hidup bersama ibu dan seorang adik kecilku, juga biaya kuliahku yang tinggal dua semester lagi, namun hal itu tak menghapus masa laluku yang penuh dengan penderitaan. aku sejak kecil harus rela mondar mandir jualan di bis, kereta, dan jalanan. kemudian untuk beberapa tahun semenjak kelas satu SMP aku agak beruntung karena bapakku bisa mendapatkan tempat untuk membuka toko sebelum akhirnya diluluh lantakkan oleh buldoser atas kebijakan penguasa. kemudian aku mencoba masuk kuliah namun belum satu semester aku terpaksa berhenti demi bapakku yang sakit keras yang akhirnya harus meninggalkan kami bertiga selamanya. aku sangat stres waktu itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa meratapi nasib, sambil bertanya "mengapa...mengapa ...?!". kenangku saat melihat polah anak-anak kecil itu.
****
"Mas, kembaliannya…" aku tersadar, seorang kenek memanggilku sambil menyodorkan beberapa lembar uang kembalian padaku. aku jadi teringat kalau sisa uang yang kubayarkan tadi ternyata belum dikasih.
"ya, makasih...". kataku singkat.
kualihkan lagi pandanganku melihat keluar jalanan. anak-anak tadi ternyata sudah tak karuan keberadaaanya. ada yang masih sibuk didepan, ada juga yang sudah dibelakang sana. satu anak sebenarnya mau masuk kedalam bis yang aku tumpangi, namun mungkin karena melihat bis telah penuh sesak, ia urungkan niatnya. ia hanya berjalan mengelilingi bis sambil mendongak keatas mengharap ada tangan yang menyisihkan sedikit recehannya. Dari atas bis, beberapa tangan diulurkan mencoba memberikan bantuan semampunya. Sesaat kemudian, ia telah berada dihadapanku dan aku benar-benar tak kuasa melihatnya.
"mas…"
kedua tangannya ditengadahkan ke arahku. aku tak tau harus ngasih atau tidak. tapi entahlah, tanganku secara spontan langsung saja memberikan kepingan uang 500-an yang ada disaku. Ingin sekali aku memberinya sesuatu yang lebih dari ini, mengajaknya bermain atau membantunya menjawab sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan ibu guru kepada murid-muridnya: “apa cita-citamu kelak?”. Namun beginilah diriku, keadaanku yang memaksaku hanya bisa untuk mengelus dada dengan bebagai tanya.
"makasih mas.." bilangnya seraya diiringi senyum polos.
"ya, ya…" aku hanya anggukkan kepala pelan.
sedetik kemudian ia berlari ke pinggir jalan. sementara temannya yang sedang beraksi di belakang bis yang kutumpangi terlihat lesu. mungkin ia belum dapat sepeserpun atau karena ia mendapat gampretan orang yang geram dengan anak-anak seperti mereka atau mungkin juga karena lampu merah masih belum menyala. ia masih memelas di samping sedan hitam dibelakang itu.
"sebenarnya mengapa harus begini..?!" pertanyaan itu muncul lagi. pertanyaan mengapa harus ketidak adilan. katanya kita ini hidup di negeri yang kaya dan pastinya hampir 100% beragama, percaya Tuhan dan pembalasan; apalagi negeri kita katanya dipenuhi muslim, kenapa kok kelihatan seperti bangsa Bar-Bar; yang kuat menggencet yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin. kenapa kita jadi bangsa pengisap?? Mana agama? Mana mereka yang mengaku muslim? bukankah ini nggak masuk akal?!! Sederet pertanyaan yang membuatku pusing.
"ini adalah takdir, ujian bagi kita. karena itu hendaknya sabar...". kata sebagian orang.
tapi aku tidak bisa terima. " sabar kan ada batasnya, coba kalau sampean yang seperti ini..!! bukankah kerusakan dan keadaan ini juga karena manusia?? jadi jangan dikit-dikit Tuhan, ini itu Tuhan..." gugatku dalam hati kesal.
dan sementara pertanyaan-pertanyaan semacam itu bergelayut dalam pikiranku, aku teringat kata-kata mereka yang mungkin sangat mengguncang:
"ini karena manusia mau diperbudak oleh doktrin-doktrin yang melemahkan mereka. manusia dijejali dengan janji dan mimpi-mimpi bahwa penderitaan di dunia ini akan diganti dengan kenikmatan yang berlipat dan tiada bandingannya nanti di akhirat. untuk itu, mereka harus bersabar saja dalam himpitan kejamnya dunia seraya menyerahkan semua masalah dalam doa mereka pada Tuhan yang nggak jelas keberadaanya."
"memang manusia telah biasa diajarkan untuk mengadu. ya, hanya sekadar mengadu dalam sujud-sujud yang tak akan pernah bisa mengubah nasib mereka. manusia telah terasing dari dirinya sendiri. mereka telah tunduk takluk pada dogma-dogma yang tak masuk akal. seolah jika mereka berdoa, Tuhan atau dewa-dewa penolong akan langsung turun dari langit, dan selanjutnya masalah BERES. bullshit....!! kata mereka.
dan memang aku pikir selama ini aku telah berdoa siang malam, bersujud dalam serentetan tahajjud, mengadu dalam keluh dan tangisku; tapi apa yang aku dapatkan?? tak ada sama sekali... bahkan dulu saat aku rajin-rajinnya ibadah, berbagai masalah dan kesulitan malah datang menyerbu. toko kami dirampas lalu disusul kematian bapakku yang membuat kami merana dan sekarat sepanjang jalan.
kurasakan ini semua tak ada bedanya dengan anak-anak di jalanan itu. ku pikir mereka harusnya duduk manis denagn seragam dalam sekolah-sekolah yang nyaman atau bermain dengan gelak tawa yang lepas bersama teman-teman sebaya mereka.
tapi apa yang kurasakan..!! apa yang kulihat..!! aku dan mereka mendeita. jerit kami tak ada yang mendengar. semua bisu. bahkan sampai Tuhan yang selama ini aku yakini sebagai sang maha pengasih, tumpuan harapan yang aku andalkan tak kunjung mengabulkan doa dan ratapku. Akhirnya aku jadi ragu. jika Dia benar-benar ada, kemana Dia selama ini? kenapa Dia bisu dengan ketidak adilan? mengapa dia menciptakan manusia baik dan menusia bejat? mengapa harus ada pengisap dan diisap?
sungguh aneh Tuhan itu, katanya ingin manusia menuju kebaikan; tapi kok bikin perbedaan yang aneh ini? Lihatlah!! Disana banyak sekali maling berjas berdasi sedang berpesta dengan kebodohan kami. Disana Para hakim tengah tawar menawar harga dengan para konglomerat yang perutnya semakin membuncit pelit. Juga disana para ustadz, dai, kyai haji-pun tak mau ketinggalan sedang mengobral ilmunya untuk menyenagkan mereka para penguasa. Mereka semua telah menghianati Tuhan. Tapi mengapa Dia diam tak menegur mereka untuk sadar? malah mengapa aku yang selalu menyembahnya selama ini tak dihiraukannya? mengapa ia membiarkan makhluk yang mengharapkannya tersakiti, terluka hingga tak berdaya? juga mengapa Dia membiarkan anak-anak kecil itu jadi tontonan yang memuakkan nurani? apa salah mereka? mengapa Dia langsung berbalik badan ketika manusia telah diciptakanNya?? bukankah ini berarti bahwa tuhan hanyalah dogma? hanyalah proyeksi pikiran manusia yang lemah sebagai pelarian dari kenyataan alam nyata?! entah....

****
waktu sedikit begeser. beberapa saat lagi lampu merah akan menyala. dan deru mesinpun semakin bertambah. asap hitam knalpot yang tak terukur lagi standar emisinya mengepul dari bawah belakang bis putih ini, sedikit menyelimuti pemandanganku disana. anak kecil disamping sedan hitam tadi kini menepi. dengan gontai ia meniti tepian trotoar menuju teman-temannya. keadaannya yang berantakan itu tak membuatnya malu untuk terus melangkah menjalani hidup. meski seandainya ditanya apakah ia suka seperti itu, pastilah dijawabnya TIDAK..!! keadanlah yang memaksa orang seperti dirinya harus mencampakkan malunya. membuang harga dirinya, dan merelakan dirinya menjadi bahan obrolan orang-orang, surat kabar. majalah, ataupun tv dengan penuh keprihatinan serta penghinaannya.
bukankah keberadaan mereka itu sangat menjanjikan keuntungan?! aku yakin.
lihatlah para penulis atau para pemilik media itu..!! tulisan dan berita mereka penuh gambar penderitaan anak-anak jalanan. dengan sedikit style, tulisan dan berita mereka bisa menjadi selalu laku dipasaran. lihat juga pak politikus-pak politikus itu. apa yang mereka gembar-gemborkan saat kampanye?? keadilan sosial, kemiskinan, dan kemakmuran akan menjadi senjata ampuh untuk mengkadali rakyat. ya, dengan menjual obral kata-kata itu. hahaha... tapi, lalu apa selanjutnya? penghapusan orang miskin dengan penggusuran, penipuan, pemaksaan dan pembunuhan secara perlahanlah yang ada, lalu kemakmuran akan merata pada rakyat jenis baru. ya, mereka itu yang biasa dibilang bapakku dulu: orang-orang sugeh. Orang-orang yang duitnya banyak yang seolah telah membeli dunia ini untuk dikontrakkan pada kita yang mlarat dan sekarat.
"ya dunia kita memang gitu. Lihat saja bangsa kita ini.....!!" kata bapak geram.
kalau bapak dulu hanya menyalahkan sekedar para manusia bejatnya, maka sepertinya aku telah lebih dari itu. mengenang hidupku yang kembang kempis ini , ditambah hasil membaca beberapa buku, aku kadang-kadang malah memprotes asal manusia-manusia itu. Tuhan yang sejak aku lahir telah menjadi keyakinanku menjadi pencipta yang nggak punya tangung jawab, pikirku. Dia seenaknya saja memilih yang satu selalu bahagia dan dalam kesenangan sedang yang lain harus menjadi tumbalnya. Tuhan menurutku telah dholim dan tidak adil. Dia tidak membantu orang-orang yang lemah, dan tidak juga menghukum manusia bejat itu. Dia membiarkan semuanya hingga ini membuatku membenciNya lalu akhirnya tidak mempercayainya. kukatakan kalau Tuhan itu hanyalah buatan akal manusia lemah seperti yang mereka bilang. atau paling tidak Tuhan telah mati dengan kebisuanNya.
lalu, siapakah aku ini...?? tanyaku pada diri sendiri.
kalau Tuhan ngak ada, siapa yang nyiptain aku..?! siapa yang naruh aku dalam perut ibuku dulu..? juga siapa pula yang nyiptain sel-sel sperma sama atom-atom yang membentuknya itu?? apa bapak ibu yang nyiptain atau, ada dengan sendirinya, sim salabim gitu?! ah, its impossible.... itu gak masuk akal bangeeet. Pikirku ragu.
kalau ortuku yang nyiptain, berarti mereka jua diciptain dong sama kakek nenek.... terus mereka berdua diciptain juga. dan akhirnya terus kayak gitu sampe manusia pertama. terus siapa pencipta manusia pertama. nah sampe disini aku mentok dengan jawaban bahwa ternyata Tuhan itu harus ada.
sedang kalau jawabannya ada dengan sendirinya, atau kayak teori evolusi itu, maka itu lebih nggak masuk akal lagi. karna kalaupun ada dengan sim salabim, adanya itu dari apa?? kan pasti sesuatu itu ada pembentuk pertamanya kayak daging, tulang, terus sel lalu atom. nah, yang bikin atom siapa??
sementara jawabanku sendiri masih ngambang, antara ada dan tiada, antara Tuhan itu adil dan dholim bunyi klakson yang bersahutan membuyarkan pikiranku. rangkaian jawaban yang hampir kudapatkan berantakan dan hilang. ah... tuhan kusebut lirih namaNya. sambil termenung kupandangi wajah-wajah lugu penuh derita yang menunggu nyala lampu merah, aku lambaikan tangan pada mereka pelan. salah satunya membalas dengan senyum kecil yang manis. aku tak tau arti senyum itu tapi bis putih telah melaju membawa pesan mereka padaku: kalau nggak ada kami,buat apa kamu didunia ini?!.
kini aku telah menemukan jawabannya dan aku yakin Tuhan ada.
(23 nov 2007/ dimuat di bulletin SAHARA KKMI Tripoli-Libya)

Jumat, 11 April 2008

Khayalku Bisu

aku tak bisa luluhkan hatimu
dan aku tak bisa menyentuh cintamu…*

Biru, salah satu warna favoritmu selalu memberi khas pada setiap gerakmu. Dipadu kontras gelap kemejamu dengan garis-garis tegak simetris yang senada dengan warna biru jilbabmu itu tak ubahnya langit dengan awan-awan tipis yang berarak berdampingan. Dari dulu kamu seperti itu. Sederhana namun mempesona. Soal pakaian mungkin kamu bisa dibilang seorang yang sedikit kolot atau seperti yang dibilang mereka itu, “konservatif”. Ya konservatif, Yang nggak tau zaman, mode, ataupun style-style masa kini yang serba minimalis, hingga kelihatan PeTe PeCeTe kata seorang teman. Juga lebih baik kamu tetap seperti itu, seperti bunga yang selalu mekar jauh dari tangan jahil yang ingin memetiknya. Menjadi diri sendiri, dan bukan menjadi ORLA. Bukankah kepribadianmu memang seperti itu ?!.

Seperti biasa, saat aku masuk kelas aku pasti melihatmu telah duduk ditempat pilihanmu itu. Sikapmu yang pemdiam dan lebih sering menundukkan diri itu seolah kamu sedang berpikir atau membaca coretan-coretan kecil di secarik kertas buram. Dengan berdiri sebentar kuucapkan salam dengan datar. lalu kuedarkan pandanganku sekilas melihat kebiasaan-kebiasaan kita di kuliah ini. Hanya dua puluhan yang sudah stand by dikelas, hitungku. Sedang sisanya, pastilah mereka masih dijalan atau enggan beranjak dari mimpi-mimpi indah dalam balutan selimut tebal. Ya meskipun musim sudah mulai mengkuncupkan bunga-bunga, dan burung-burung telah mendendangkan puja-puji atas cinta, namun musim dingin masih menyisakan aroma dinginnya dengan sangat. Kalaulah aku tak sadar, mungkin aku akan seperti mereka. Lebih baik tidur dari pada seperti ini. Toh dikuliah tak ada absensi, juga seperti biasa kita hanya disuruh menampung jutaan huruf yang kadang tak bisa kita mengerti. Ia toh… ?!
Di pojok sana kulihat teman kita si Tanzani sedang sibuk membersihkan kursi dan mejanya dari selimut debu, lalu didepan sebelah kirimu ada Izzah dan Anna yang lagi ngobrol entah dengan tema apa. Lalu tak lupa pula pandanganku ini menuju padamu. Rasanya kalau sehari saja tak memandangmu, kayaknya ada yang kurang gitu. Tapi ah…. kau ini, hanya melihatku seperti itu saja?! Tak adakah sesuatu yang lain? ya, walaupun itu hanya senyum kecilmu? Senyum yang selalu aku nanti-nantikan setiap kali aku memandangmu.. Aku sangat bingung dengan dirimu. Apa kamu tak pernah tahu apa arti senyummu bagiku itu? atau kamu pikir senyummu hanya sekedar angin lalu yang berhembus hilang?! kamu sungguh salah jika mengira begitu. Bagiku, senyummu adalah embun hangat hatiku dimusim dingin ini. Senyummu adalah semangat yang memberikan kekuatan pada setiap langkahku. Apakah kau tak tahu ini semua? walau hanya sekedar merasannya saja?! Tidakkah sama sekali.. ?! ya Tuhan…. aku tak percaya ini. Kamu ternyata masih menganggapku hanya sebatas teman. ya, sekedar teman seperti si ufa, Boy, Anna atau lainnya itu. Ya Rabb…!!

Sesaat aku menuju ketempatku. kutaruh buku-bukuku diatas meja. Muqara-muqarrar yang bikin jenuh itu, kubiarkan diam saling tumpuk. Aku tampak lesu berselimut dingin. Kulirik kamu yang masih diam bagai patung sang dewi. "kalau saja ada yang bisa kulakukan kan nggak suntuk gini. pagi-pagi sudah BeTe" batinku. "ah.. ini semua gara-gara kamu. tapi salahku juga mikirin orang kayak kamu..".
Inginku mendekatimu, ngobrol seperti biasa sambil menunngu datangnya ustadz. Dan seandainya saja aku seperti Romeo yang ada dalam film, ya Romeo dan juliet itu, aku ingin sekali berdiri didepanmu, dan dengan gagah kuungkapkan isi hatiku padamu, hingga kamu akhirnya terpesona dengan keberanianku. Dan kebetulan sekali, saat ini adalah bulan valentine. Aku ingin ia menjadi saksi sejarah bahwa bulan ini benar-benar bulan kasih sayang. Bulan dimana hati kita berdua menyatu mengikrar cinta. Sebuah cinta suci yang tak hanya sekedar menjadi pengalaman masa muda untuk kemudian pudar seiring masa. Tapi sayang nya itu semua tak akan pernah terjadi. kita tentu paham bahwa cinta tak hanya ada dalam bulan februari tanggal sekian. cinta itu bagaikan mata air surga yang selalu mengalir dari hati. Sehari tidaklah cukup untuk mengungkapkan geloranya. Tentunya kamu tak ingin aku wiridan cinta dalam sehari itu kemudian kutinggalkan dan kucampakkan keesokannya. Dan sedikitpun tak tersirat agar itu menjadi nyata. Jadi, kubiarkan diriku sabar menantimu sadar. Aku anggap saja ini adalah ujian untukku.
Namun pagi ini sungguh aku sangat merindumu. Aku sungguh berharap lembut senyummu itu menyapaku. Aku ingin mendekatimu, menemanimu dalam kosongnya waktu. namun kuurungkan niatku ini karena bad mood sudah lebih dahulu menguasaiku Kubiarkan saja kamu diam disana dan akupun tak beranjak dari tempatku. “kenapa sih kamu tak bisa merasakannya…??”. kutarik nafas yang terasa dingin dalam-dalam. kuisi paruku sepenuhnya dengan udara. huufhhhh…Astaghfirullah..

*****
Dingin hari ini semakin menyeruak. Matahari yang terang tak mampu menghangatkan tubuh-tubuh yang menggigil beku. Bahkan dengan balutan jaket tebal yang kubeli dari pasar jum'at pun masih tak kuasa menahannya. Aku sudah tak konsen dengan pelajaran yang disampaikan ustadz. Serasa aku ingin keluar saja dari kelas, tapi masih kutahan. Sementara ustadz bersemangat dengan ceramahnya, kukeluarkan HP yang ada disakuku. Kupencet-pencet keypad mencari nama. Beberapa detik kemudian suara musik terdengar nyaring lalu secepat kilat ku tekan end call.
Si Boy yang duduk di belakangmu tampak kaget dan langsung melihat kearahku dengan muka kesal. Akupun hanya nyengir menyunggingkan senyum puas. hehehe…. sejenak, kamu yang juga tampak kaget ikut memandang kepadaku. Aku cuek. Meski aku merasa hatimu mengataiku sebagai orang Bengal.." tapi tak apalah usil sedikit. kalau nggak gitu kan nggak asyik. haha….
Tampak ustadz yang terpaksa menghentikan bicaranya itu sedikit terbengong. Tapi sebelum ia melanjutkannya, aku yang sedari tadi sudah menahan capek spontan minta izin untuk keluar setelah kurapikan bukuku dikolong meja. Bebaaaaas… itulah ungkapan yang kurasakan. Wuuhh….
Mungkin tak pernah terpikirkan olehmu bahwa aku suka melakukan hal bodoh ini hingga kamu tak bosan-bosannya bilang nanti aku bisa rosib, gagal atau mukafaahku dipotong. Kalau sudah gitu bisa mampus riwayatku, bilangmu diiringi senyum tipis saat itu. Sebenarnya aku juga nggak pengen bolos atau kabur seperti itu. Apalagi jaminannya mukafaah ; nggak kebayang jika aku harus gali lobang atau hanya bisa menelan ludah selama sebualan. naudzu billah…. Aku juga telah berusaha supaya bisa nglakuin seperti apa yang kamu bilang itu. Tapi bagaimana ya jelasinnya…. yang pasti aku nggak bisa diam bertahan dalam kelas yang bagai penjara itu. Lagi pula aku punya prinsip bahwa ilmu tak hanya dikelas; tapi dimana saja. Aku yakin kamu juga berprinsip sepertiku.
Coba bayangkan, kita dalam kelas hanya duduk dan diam layaknya robot. sedang ustadz, lihatlah mereka banyak yang seperti pengkhotbah. Hanya membaca buku, mendikte sambil menyuruh kita mencatatnya, padahal mengajar bukan hanya itu kan…?!. Aku jadi bingung sendiri, mengapa kita harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar ceramah yang sulit dicerna. Bahkan menghabiskan sepertiga umur dalam kelas hanya untuk omongan-omongan yang bikin kita berujar haahhhh… cape’ dech!!
Dan seperti biasa, pasti kamu akan menjawab semua ini dengan nada heran. lalu kamu akan bilang kalau aku orang yang kurang baik, tidak sopan, tidak menghargai ustad, keminter, dsb… Aku tau kamu pasti akan begitu karena maaf saja, aku tidak seperti kamu yang tak bisa merasakan perasaanku. Aku bisa bilang begini karena memang aku tau kamu, paham sifat-sifatmu meski kadang-kadang kamu menang sulit dimengerti. Dan aku juga tau kalau kamu mendengar ini, kamu mungkin akan bilang aku seorang egois, sok tau dan bla. bla.bla…

Hah, egois.. ?! benarkah aku egois ?! bukankah kamu yang lebih egois ?! kamu selalu memandang aneh padaku. Kamu nggak bisa mengerti perasaanku. Bahkan kamu telah menyakitiku, membuat hati ini seolah ditusuk-tusuk duri jahannam lalu kamu tinggalkannya untuk diinjak-injak dijalanan. Disaat aku semakin bingung dengan menunggu responmu, kamu ternyata malah memilih dan membuka tanganmu untuk dirinya. Apa kamu buta , hingga aku yang dihadapmu seakan tak pernah ada ?! jangankan membalas cintaku, merasakannya pun tidak bahkan kamu malah memberikan hatimu padanya. Sudah berapa lama sih kamu mengenalnya ? sebulan, dua bulan atau memang dia telah mendahuluiku berjuang menahlukkanmu ? oh bodohnya aku ini. Ternyata aku belum tau benar siapa kamu sesungguhnya.

*****
Lama kutertegun memikirkan nasibku. Sementara hati ini belum ingin beranjak dari lamunanku tentangmu, aku harus rela menerima kenyataan yang kini telah mencabik-cabik cintaku. Matahari yang telah udzur dengan menyisakan senja merah terasa sangat indah. Sangat indah seandainya saja akulah yang terpilih untuk memiliki hatimu. Dengan diiringi belaian angin sepoi dingin aku tak kuasa menahan deraian air mata. Ternyata aku yang tampak biasa cuek bisa juga lembek. Ingin sekali kuhapus airmata ini tapi bayanganmu selalu membuatnya kembali meleleh. Aku memaki diriku sendiri mencoba lari dari bayanganmu itu. Aku bertanya pada sendiri : apa sih hebatnya dirimu ? aku terdiam.

Sejak kita saling kenal hingga kamu mulai menyihir jiwaku, Aku telah banyak tau tentangmu, namun yang belum aku tau sampai saat ini adalah bagaimana perasaanmu padakau. Akupun hanya bisa berharap, meski aku tau sikapmu padaku tak berubah, biasa saja. dan hari ini aku tau semuanya hanyalah mimpi. Akupun menangis. Lalu kenapa aku harus cemburu saat kamu jadian sama dia ? entahlah…
Mungkin itulah tandanya seorang yang jatuh cinta meski aku sendiri sebenarnya tidak tau cinta itu bagaimana. Aku hanya mendengar dari mereka yang pernah mengalaminya juga dari roman-romannya HAMKA atau ayat-ayat cinta-nya El-Syirazi yang kamu pinjamkan ke aku itu. Kata mereka cinta adalah mahluk yang paling misteius didunia ini, awalnya sangatlah manis tapi akhirnya sangatlah pahit. Sedang pengalaman sendiri, jujur saja aku belum pernah merasakannya kecuali setelah bertemu denganmu. Dan kini aku benar-benar merasakan apa yang mereka katakan. .

Tahukah kamu apa yang membuatmu menarik ?! ternyata “sikap biasamu” itu. Selama setahun lebih aku mengenalmu disini, ternyata kamu tetaplah kamu. Kamu yang dulu, kemarin dan sekarang. Sangat menakjubkan. Tak habis pikir ternyata itulah yang membuatku penasaran hingga ingin sekali aku menaklukkanmu. Tapi sayangnya kamu nggak menyadarinya. Kamu nggak bisa merasakannya. Ah… salahku juga sih aku terlalu sopan hingga takut tunjukkan isi hatiku padamu. Kuakui memang aku tak tau bagaimana ungkapkan rasa ini kecuali lewat sikap dan perhatianku padamu selama ini.
Apa kamu masih ingat tulisan yang pernah kamu baca dibukuku yang kamu pinjam dulu ?! sebuah tulisan yang kamu pakai buat meledekku !! disana kutulis: "idealisme cinta adalah sikap stanpa sebuah kata atau pena" apa kamu ingat itu ?? tahukah kamu ternyata ia kini kau telanjangi kebodohannya didepan realita. Bahkan akhirnya kamulah yang benar karena realitas cintaku tak cukup dengan sebuah sikap. Ia harus dipaksa keluar lewat lisan ini dengan serangkaian kata, kalimat dan simbol-simbol yang jelas atau lewat goresan pena dengan huruf-huruf kapital besar "I LOVE YOU". Mungkin dengan semua inilah kamu baru bisa tau keinginanku. Namun kembali kuingin menangis jika teringat kisahku ini. Kisah yang sangat menyedihkan karena disaat kusadari semua kesalahanku,, ternyata hatimu telah tertambat diujung labuhan lain. Kini kamu disana telah berdua, sedangkan aku masih sendiri disini. Ya Tuhan…. Kenapa aku ini ?!

Ah, sudahlah !! aku capek memahamimu. Biarkanlah aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Aku ingin kembali kekehidupanku, sebagai Aku. Tentang kamu, mungkin aku hanya bisa mengagumimu dari jauh, melirikmu saat kamu duduk menunduk atau mungkin nanti memilikimu saat taqdir memihakku. Mungkin juga bisa kukatakan pada malam-malamku nanti saat bintang-bintang berpendar menemani rembulan bahwa ceritaku hanya ada dalam khayalku yang bisu. (awal musim semi 2008 )
*Lirik by Padi.